Pengertian Kode Etik, Tujuan, dan Contohnya

Diposting pada

Kode Etik Adalah

Proses dalam membuat susunan dari kode etik biasanya dapat menguraikan misi dan nilai-nilai yang dimiliki oleh keprofesian tertentu. Misalnya saja kode etik yang dimiliki seorang dokter akan berbeda dengan kode etik yang dimiliki seorang guru.

Namun pada hakekatnya kode etik sama-sama akan membantu para profesional agar terhindar dari permasalahan-permasalahan krusial yang bisa merugikan dirinya sendiri, citra profesinya, atau bahkan orang lain yang menggunakan jasa mereka.

Kode Etik

Kode etik berasal dari dua kata yakni “kode” yang memiliki arti sebagai kumpulan sandi, aturan atau undang-undang dan “etik atau etika” yang bermakna susunan moral, norma, dan ketentuan tata krama. Secara istilah kode etik berarti susunan norma, nilai, atau sistem peraturan tentang keprilakuan yang tertulis secara tegas dan harus dipatuhi serta diterima oleh anggota yang tergabung dalam himpunan keprofesian tertentu.

Kode etik yang dimiliki oleh setiap profesi mampu menjadi rambu untuk pemegang profesi agar tidak melakukan suatu pelanggaran. Setiap keprofesian yang memiliki kode etik harus menguraikan tidak hanya aturan tetapi juga konsekuensi yang dihasilkan dari pelanggaran kode etik. Penting untuk dipahami bahwa tidak semua pelanggaran terhadap kode etik harus diperlakukan sama.

Ada dua perbedaan penting: melanggar aturan hukum dan melanggar nilai-nilai perusahaan.Konsekuensi melanggar hukum memiliki konsekuensi yang lebih serius di luar tindakan disipliner perusahaan. Beberapa pelanggaran berbasis nilai pada umumnya tidak separah melanggar hukum. Misalnya, tidak mengenakan baju seragam yang tepat tidak sama dengan mencuri informasi kartu kredit pelanggan.

Dalam dokumen kode etik, harus jelas menguraikan prosesnya ketika seseorang dituduh melanggar kode etik. Seorang ketua tidak selayaknya memutuskan untuk langsung memecat anggotanya. Ketua atau atasan dapat memastikan terlebih dahulu bahwa pelanggaran tersebut terjadi.

Sepantasnya karyawan akan dialihkan ke tugas lain atau diberi cuti administratif sampai investigasi selesai terkait insiden tersebut. Rahasiakan detail masalah untuk melindungi karyawan yang terlibat sembari mengumpulkan saksi dan bukti pelanggaran.

Pengertian Kode Etik

Definisi kode etik adalah serangkaian bentuk pedoman atau prinsip yang dirancang untuk membantu para profesional dalam melakukan bisnis maupun keprofesian lainnya yang mereka geluti agar tercipta tindakan kerja yang jujur dan dengan integritas sebagimana hal ini demi menunjang tercapianya visi dan misi yang akan menjadi goal di akhir kepengurusan atau perusahaan.

Pinsip Kode Etik

Ada beberapa prinsip yang harus dicerminkan dalam setiap susunan kode etik, antara lain:

  1. Prinsip standar teknis, Dalam hal ini anggota profesi harus melaksanakan jasa profesional yang relevan dengan bidang profesinya.
  2. Prinsip kompetensi, Melayani klien dengan hati-hati, tekun, dan kompeten berdasarkan perkembangan keilmuan yang ditekuni, legislasi dan teknik yang paling sesuai.
  3. Prinsip tanggung jawab profesi, Setiap anggota profesi mampu memberikan alasan dan bertanggung jawab atas setiap tindakan yang mereka lakukan dalam pekerjaannya.
  4. Prinsip kepentingan publik, Setiap tindakan yang dilakukan harus berdasarkan kepentingan dan kebutuhan publik. Maka dalam setiap pengambilan keputusan seorang profesional harus mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak.
  5. Prinsip integritas, Anggota profesi harus menjujung nilai tanggung jawab dan integritas tinggi, sehingga publik akan meningkatkan kepercayaan terhadap jasa profesional tersebut.
  6. Prinsip obyektivitas, Seorang profesional harus menjaga obyektivitas dan bebas daru kepentingan lainnya. Tidak ada kepentingan yang lebih jutama dibanding dengan kepentingan publik.
  7. Prinsip kerahasiaan, Seorang profesional wajib menghormati dan menjaga kerahasiaan klien maupun informasi lainnya yang diperoleh selama melaksanakan jasa profesionalnya.
  8. Prinsip perilaku profesional, Seorang profesional harus berperilaku konsisten dengan reputasinya sebagai seorang profesional tertentu dan menjauhi tindakan yang dapat mempermalukan profesi yang diembannya.

Untuk memastikan bahwa tujuan dan prinsip-prinsip kode etik dipatuhi, beberapa perusahaan biasanya menunjuk petugas khusus untuk mengawasi penerapan kode etik tersebut. Individu ini bertugas memperbarui informasi tentang perubahan kode peraturan dan memantau sejauh apa kode etik tersebut dipatuhi.

Selain itu penerapan kode etik yang tepat di tempat kerja mana pun sangat penting bagi keberhasilan suatu perusahaan atau profesi tertentu. Sayangnya, perusahaan atau suatu organisasi terkadang gagal untuk menerapkan dan menjaga kode etik kepada seluruh anggotanya.

  1. Untuk menghindari hal tersebut sada beberapa langkah yang bisa diterapkan, sebagai berikut:
    Setiap atasan atau ketua harus melakukan pertemuan rutin dan menghabiskan waktu untuk membahas kode etik yang telah dibuat.
  2. Atasan juga bisa meminta tanggapan dari para anggotanya terkait subtansi dari kode etik.
  3. Setiap atasan harus mempermudah karyawan untuk mencari bimbingan ketika mereka membutuhkan bantuan untuk membuat keputusan. Karyawan mungkin tidak selalu yakin dalam membuat keputusan yang baik sesuai kode etik. Karena itu, tanggung jawab atasan untuk menyediakan sumber daya yang bisa membimbing mereka secara khusus terkait hal tersebut.
  4. Meniptakan suasana di mana karyawan dapat mempercayai pengawas mereka dan tahu bahwa mereka dapat melaporkan pelanggar kebijakan etika. Pengawas harus menjaga karyawan yang melaporkan pelanggar agar mereka jauh dari ancaman.

Tujuan Kode Etik

Setiap profesi sepatutnya mempunyai kode etik yang bisa menjadi pedoman dalam menentukan, mempertahankan, dan meningkatkan standar keprofesionalan. Dengan adanya kode etik, orang tidak akan sewenang-wenang berbuat semau hatinya.

Artikel ini akan merumuskan beberapa poin tentang tujuan kode etik yang diambil dari berbagai literatur, sebagai berikut:

Sebagai alat evaluasi

Kode etik berisi tentang standar perilaku bagi karyawan, vendor, dan anggota yang mengemban suatu profesi tertentu. Kerangka kerja kode etik ini mendefinisikan tindakan yang dapat diterima dan tidak dapat diterima dalam berbagai situasi dengan maksud menjaga integritas dan kepatuhan hukum organisasi.

Kode etik dapat menjadi pedoman bagi calon karyawan, anggota baru, vendor, bahkan calon mitra kerja untuk mempelajari kondisi dan citra perusahaan bagi mitra dan tenaga kerja mereka sehingga mereka bisa memutuskan apakah itu organisasi atau perusahaan yang bagus untuk dikutsertakan dalam kooptasi atau kerjasama.

Masyarakat dan pengamat industri seperti serikat pekerja dapat menilai komitmen organisasi terhadap isu-isu yang menyangkut mereka dengan meninjau poin-poin kode etik tentang isu-isu tersebut. Investor dan karyawan dapat mengevaluasi pengambilan keputusan dan nilai-nilai manajemen dengan membandingkan tindakan mereka dengan kode etik yang mereka punya.

Untuk mendapatkan kepercayaan publik

Kode etik tidak hanya sebatas dalam dunia bisnis. Banyak lembaga baik dalam pemerintah maupun di luar pemerintah memiliki kode etik untuk menanamkan kepercayaan publik.

Asosiasi profesional, terutama yang telah mengeluarkan sertifikasi, juga menggunakan kode etik untuk menanamkan integritas di antara anggota dan mempromosikan rasa hormat dan kepercayaan dengan audiensi yang mereka layani.

Untuk menjadikan pekerjaan anggota lebih mudah

Ketika pekerjaan dilakukan secara baik dan sesuai dengan kode etik, maka akan lebih mudah bagi karyawan atau seorang profesional untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana berperilaku dalam situasi tertentu.

Untuk menjadikan pekerjaan tersebut lebih terhormat

Ketika anggota mengetahi bahwa organisasi mendukung mereka dalam menegakkan standar tinggi dan melaporkan setiap kesalahan, anggota akan merasa lebih nyaman dan bangga terhadap pekerjaan mereka.

Untuk meningkatkan standar lingkungan kerja

Ketika standar diketahui dan ditegakkan, hal tersebut akan menciptakan lingkungan kerja yang ramah dan saling menghormati serta dapat mengurangi kesalahpahaman antar anggota profesi.

Contoh Kode Etik

Kode etik umumnya disahkan dan disusun oleh organisasi asosiasi profesi yang bersangkutan melalui suatu forum yang biasanya disebut kongres atau konferensi. Berikut contoh kode etik keprofesian yang ada di Indonesia, sebagai berikut:

Kode etik jurnalistik

Kinerja jurnalis Indonesia telah dibatasi dan diatur oleh negara. Aturan tersebut tercantum dalam undang-undang Pers No 40 tahun 1999 dan telah menjadi landasan dalam penyusunan kode etik jurnalistik berikut:

  1. Bersikap independen, Seorang wartawan harus mengeluarkan berita yang sesuai dengan fakta, apa adanya dan netral bebas dari kepentingan salah satu pihak.
  2. Profesional, Seorang wartawan harus memperhatikan aturan penulisan. Seperti sumber berita, narasumber, dan lai-lain. Sehingga kredibilitas berita dapat dipertanggungjawabkan.
  3. Tidak memanfatkan profesi untuk kepentingan pribadi, Wartawan perlu menjaga kefokusannya saat menjalankan tugas. Seringkali dengan alasan untuk mencari berita wartawan rela melanggar beberapa aturan lainnya seperti melanggar lalu lintas, menerima suap dan sebagainya.
  4. Melindungi narasumber, Wartawan wajib menjaga identitas narasumber jika tidak memperoleh izin untuk mempublikasikan identitasnya.
  5. Menguji berita, Sebelum membuat berita, seorang wartawan harus mengumpulkan bukti yang kuat atas kasus tersebut dan tidak menerima informasi secara menah-mentah. Agar berita yang dibuat menjadi berita yang berkualitas.

Nah, itulah tadi penjelasan serta pengulasan secara lengkap kepada segenap pembaca terkait dengan pengertian kode etik, prinsip, tujuan, dan contohnya. Semoga melalui materi ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca sekalian. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *