Pengertian Hubungan Industrial, Bentuk, Tujuan, dan Contohnya

Diposting pada

Hubungan Industrial Adalah

Hubungan industrial menjadi salah satu bahasan penting dalam kajian ilmu sosial, hal ini tidak terlepas daripada keberdaan hubungan sosial yang terjadi antara pekerja, pemilik perusahaan, dan sistem pemerintahan yang meregulasi tentang produksi barang/jasa. Oleh sebab itulah pada artikel ini secara lengkap menjelaskan tentang hubungan industrial.

Hubungan Industrial

Konsep terbentuknya hubungan industrial dalam kehidupan bermasyarakat akan senantiasa menitik beratkan dalam hak dan kewajiban yang terjadi antara pekerja/buruh dan pengusaha (pemilik usaha). Apabila hak dan kewajiban ini dipenuhi maka mustahil akan tercipta perselisihan, dan sebaliknya apabila terjadi penyimpangan maka yang terjadi timbulnya gejolak konflik dalam hubungan tersebut.

Pengertian Hubungan Industrial

Hubungan Industrial adalah serangkaian mekanisme yang memberikan gambaran akan terjadinya hubungan diantara para pelaku proses produksi terhadap barang dan jasa kepada para pemiliki (investor) yang kemudian diatur dalam sistem pemerintahan.

Akan tetapi yang perlu setidaknya dicatat!, bahwasanya dalam hubungan industrial tidak bisa jikalau dilihat sekedar sistem hubungan yang terjadi di antara para pelaku di tempat kerja akan tetapi juga haruslah meliputi sekumpulan fenomena sosial yang menjadi pendorong dan penggambat dalam prosesi koneksi yang terjadi dinatara hubungan tersebut.

Pengertian Hubungan Industrial Menurut Para Ahli

Adapun definisi para ahli tentang hubungan industrial, antara lain adalah sebagai berikut;

Smeru (2002)

Definisi hubungan industrial adalah serangkaian bentuk hubungan sosial yang tercipta karena adanya pengaruh dari kegiatan ekonomi, dan politik yang terjadi, baik di dalam maupun di luar tempat kerja sehingga menjadi pedoman dalam pengaturan hubungan ketenagakerjaan.

Undang-Undang No.13 Tahun 2003

UU Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003, khususnya pada pasal 16 memberikan pengertian dari hubungan Industrial ialah adanya sistemasiasi hubungan yang dibentuk lantaran adanya para pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang haruslah terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh dan pemerintah dengan pedoman utamanya didasarkan pada nilai-nilai ideology Pancasila dan Undang-undang 1945.

Bentuk Hubungan Industrial

Adapun bentuk hubungan industrial yang ada dalam definisi sosiologi, antara lain adalah sebagai berikut;

Pembagian Kerja

Hubungan Industrial dalam sejarahnya berawal dari adanya hubungan kerja yang lebih bersifat individual antara pekerja dan pengusaha. Kemudian atas kondisi inilah secara terperinci dibagi pembagian sub kerjaan yang jelas, agar dapat membedakan antara hak dan kewajiban sesuai dengan surat perjanjian.

Pengaturan Hak dan Kewajiban

Bentuk hubungan industrial lainnya ialah terdapatnya pengaturan yang jelas antara hak dan kewajiban yang terjadi diantara pekerja, persoalan ini dilakukan dengan jelas dalam perjanjian yang bersifat perorangan.

Dalam prses terjadinya hubungan industrial baik pihak perusahaan maupun pekerja atau buruh yang bekerja dalam suatu badan usaha memiliki hak yang sama dan sah sebagai upaya dalam melindungi hal-hal yang dianggap sebagai kepentingan guna mengamankan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.

Perjanjian Kerja

Bentul lainnya dari hubungan industrial ini ialah terdapatnya perjanjian kerja yang jelas, dimana proses pembuatan perjanjian kerja ini akan senantiasa dilakukan pada saat penerimaan pekerja, yang di dalamnya biasanya memuat ketentuan-ketentuan yang berlaku, misalnya saja adalah sebagai berikut;

  • Waktu pengangkatan
  • Persoalan masa percobaaan
  • Jabatan yang memberikan pengaru pada peran
  • Gaji (upah)
  • Fasilitas
  • Tanggungjawab
  • Uraian tugas,
  • Penempatan kerja

Sedangkan jikalau dilihat dari sarana yang menjadi bentuk hubungan industrial berdasarkan pada Pasal 103 Undang-Undang Ketenagakerjaan, antara lain adalah sebagai berikut;

  • Serikat pekerja atau terbentuknya serikat buruh
  • Organisasi pengusaha
  • Lembaga kerja sama bipartit
  • Lembaga kerja sama tripartit
  • Perjanjian kerja bersama
  • Peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan
  • Lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial

Tujuan Hubungan Industrial

Tujuan dari adanya proses hubungan industrial, antara lain adalah sebagai berikut;

Meningkatkan Produktivitas

Meningkatnya jumlah produktifitas dalam hubungan industrial tidak akan akan terjadi jikalau terdapat konflik/perselisihan di dalam proses produksi, kondisi inilah diperlukan hubungan yang baik antara pemilik modal dan pekerja.

Meningkatkan Kesejahteraan Pekerja dan Pengusaha

Tujuan utama adanya hubungan industrial dalam sebuah perusahaan ialah agar tercapainya kesejahteraan antara pekerja dan pengusaha (pemilik modal). Tujuan ini bisa terjadi jikalau keduanya menyadari akan hak dan kewajiban sehingga memiliki komitmen untuk menjalkan perjanjian yang telah disepakati bersama.

Dalam proses produksi pihak-pihak yang secara fisik sehari-hari terlibat langsung adalah pekerja/buruh dan pengusaha(operator), sedangkan pemerintah terlibat di dalam hal-hal tertentu saja terutama yang berkaitan dengan atau sesuai kewenangannya (regulator).

Contoh Hubungan Industrial

Sebagai penjelasan lebih mendalam, berikut ini adalah contoh kasus yang dimaksudkan dalam hubungan industrial, antara lain;

Perusahaan Tekstil

Perusahaan tekstil yang ada di berbagai wilayah-wilayah Indonesia akan senantiasanya memegang erat hubungan indutri yang terjadi, sebab kekuatan daripada usaha ini selain pada modal ialah pada inovasi yang diberikan. Sehingga terdapat pembagian kerja yang jelas, antara pekerja, direktur, dan pemilik perusahaan yang sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masiang.

Apabila kemudian terdapat pertentangan/konflik dalam hubungan tersebut membuat perusahaan sulit berkembang, lantaran sudah tidak lagi tercipta kesabilan dan keteraturan yang seharusnya  sebagai penjang daripada keberhasilan usaha.

Adapun dari contoh diatas, juga dapat dikatakan bahwa sejatinya hubungan industrial pada perusahaan tekstil ini memiiki dampak negatif dan positif. Untuk dampaknya, antara lain;

Dampak Positif dari perkembangan kawasan yang ada dalam arti industri dalam perusahaan, antara lain;

  1. Meningkatnya lapangan kerja yang secara otomatis memangkas angka pengangguran
  2. Memberikan kontribusi yang cukup besar dalam penghasilan daerah
  3. Menjadikan pendapatan tambahan bagi masyarakat di sekitar kawasan yang terjalin hubungan industry dengan bai
  4. Menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara pihak swasta dan pekerja, sehingga peraturan dapat dijalankan dengan baik antara perusahaan, pihak pekerja dan pemerintah.

Adanya dampak positif dari kawasan industri, diantaranya adalah:

  • Kemacetan lalu lintas di sekitar kawasan indutri di setiap jam pulang kerja
  • Terjadi kesenjangan pendapatan antara masyarakat sekitar dengan para masyarakat pendatang.
  • Mulai hilangnya budaya sekitar dengan adanya individualisme di masing-masing penduduk (penduduk asli ) dan penduduk pendatang yang hadir karena proses indutri.

Demikianlah serangkain artikel yang sudah kami tulisakan secara lengkap kepada segenap pembaca, terkait dengan pengertian hubungan industrial menurut para ahli, bentuk, sarana, tujuan, contoh, dan dampaknya. Semoga melalui materi ini bisa memberikan pemahaman. Trimakasih,

Sumber Tulisan
  • Ranjabar, Jacobus. 2008. Perubahan Sosial dalam Teori Makro. Bandung: Alfabeta
  • https://jungjera.wordpress.com/2010/05/21/hubungan-industrial/
  • http://epsmanajemensdm.blogspot.com/2011/07/hubungan-industrial-industrial-relation.html
  • https://sautlaw.wordpress.com/2012/10/06/pengertian-hubungan-industrial-h-ketenagakerjaan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *