Contoh Disorganisasi dalam Masyarakat

Diposting pada

Disorganisasi di Masyarakat

Pada masa sekarang, sebagai makhluk sosial hampir tidak ada masyarakat yang tidak terpengaruh dengan masyarakat lain maupun unsur-unsur perbedaan yang lain. Semua masyarakat saling membaur dan berinteraksi. Dalam proses interaksi, tidak semua masyarakat dapat menerima perubahan dan beradaptasi dengan baik. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan disorganisasi dalam masyarakat.

Disorganisasi

Disorganisasi menurut KBBI diartikan sebagai keadaan yang kacau tanpa aturan karena adanya perubahan pada lembaga sosial tertentu.  Disorganisasi sosial merupakan salah satu bentuk permasalahan sosial akibat memudarnya nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat.

Perubahan nilai dalam masyarakat dapat terjadi karena munculnya nilai-nilai baru yang berbeda dengan nilai yang berkembang dalam masyarakat. Hal seperti ini akan menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian mana yang akan menjadi acuan dalam hidup bermasyarakat.

Gejala dalam proses sosial berupa disorganisasi sosial pada umumnya terjadi pada masa transisi dimana budaya-budaya tradisional perlahan mulai memudar digantikan oleh budaya-budaya modern. Lambat laun budaya modern akan mendominasi tatanan masyarakat.

Dalam situasi ini, kontrol sosial akan sulit dilakukan. Masyarakat bersikap sesuai dengan apa yang menurutnya benar. Norma dan nilai-nilai sosial mulai bergeser, disorganisasi sosial rentan terjadi.

Disorganisasi Menurut para Ahli

Beberapa ahli mendefinisikan disorganisasi sebagai berikut:

  1. Soerjono Soekanto, Pengertian disorganisasi menurut Soerjono Soekanto adalah mulai memudarnya nilai dan norma dalam struktur masyarakat karena adanya suatu perubahan dalam kehidupan.
  2. Elliot & Merril, Disorganisasi diartikan sebagai proses peralihan pola perilaku maupun kebudayaan lama yang ditinggalkan, sementara pola perilaku yang baru belum terbentuk yang mengakibatkan adanya ketegangan interaksi antar kelompok.

Contoh Disorganisasi

Masyarakat Indonesia yang multikultural, rentan terjadi perbedaan pendapat yang akhirnya memunculkan disorganisasi dalam masyarakat. Contohnya sebagai berikut;

Sikap Indivdualisme

Perkembangan teknologi yang pesat membuat banyak perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat. Sebelum mengenal sosial media, interaksi secara langsung masih sering terlihat di lingkungan masyarakat. Interaksi antar masayarak mulai berkurang sejak mengenal sosial media.

Pengaruh sosial media tidak hanya dirasaakn oleh remaja maupun orang dewasa. Saat ini banyak anak kecil yang lebih suka bermain game atau menonton video di sosial media daripada bermain permainan tradissional dengan teman di lingkungannya.

Hal tersebut terjadi karena kemerosotan nilai dalam masyarakat. Orang-orang lebih memilih meenghabiskan waktu di rumah dengan sosial media dibandingkan bercengkrama dengan masayarakat lain.

Hal ini dapat menyebabkan hilangnya rasa toleransi dalam masyarakat. Kepentingan individu lebih diutamakan daripada kepentingan kelompok. Kepekaan terhadap permasalahan di lingkungan sosial pun semakin berkurang. Tatanan sosial pun berubah.

Penegakan Hukum yang Tidak Adil  

Istilah tumpul ke atas dan runcing kebawah sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Hukum yang seharusnya menjadi perlindungan bagi masyarakat terkadang justru membuat masyarakat merasa tidak mendapat keadilan.

Penegakan hukum telah diatur dalam Undang-undang 1945 pasal 1 ayat (1) yang berbunyi semua orang mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum. Namun dalam prakteknya, hukum dapat menjadi alat bagi pemegang kekuasaan untuk bertindak semaunya sendiri.

Tawuran

Tawuran sering terjadi, mulai dari tawuran pelajar sampai tawuran antar kelompok masyarakat. Tawuran biasanya terjadi karena adanya perbedaan pandangan antar kelompok sehingga terjadilah konflik.

Indonesia merupakan negara demokratis. Penyelesaian masalah seharusnya diselesaikan secara musyawarah mufakat. Akibat pergeseran nilai yang terjadi di masyarakat, membuat rasa toleransi dan menjunjung tinggi musyawarah mufakat terkadang diabaikan.

Rasa primordialisme juga menjadi pemicu terjadinya disorganisasi khususnya tawuran maupun pertikaian antar suku.

Perpecahan Akibat Pemilu

Semarak pemilu di Indonesia tidak hanya dirasakan oleh kalanagn elit politik. Masayarakat umum yang tidak berkecimpung dalam dunia politik pun ikut antusias dalam pelaksanaan pemilu, baik pemilu pada tingkat daerah maupun nasional.

Namun, antusias masayarakat ternyata dapat berakibat pada perpecahan akibat perbedaan pandangan politik. Contoh nyata adalah ketika pemilihan presiden tahun 2019. Terdapat dua kandidat presidan. Masing-masing pendukung dari keduanya justru terjadi aksi saling menyerang dan menjelek-jelekan. Hal ini terjadi karena kurangnya rasa toleransi dan sikap saling menghargai antar kelompok.

Memilih Produk Impor Dibanding Produk dalam Negeri

Perubahan globalisasi menyebabkan berbagai pergeseran nilai dalam masyarakat. Melestarikan budaya bangsa dan mencintai produk-produk dalam negeri sudah mulai memudar. Anak muda lebih suka membeli produk-produk luar negeri dibandingkan produk dalam negeri dengan alasan mengikuti trend masa kini.

Membuang Sampah Sembarangan

Menjaga kebersihan lingkungan menjadi tanggungjawab semua masyarakat. Banyak sekali kegiatan sosial yang bertujuan untuk membersihkan lingkungan, salah satunya adalah kegiatan gotong royong.

Namun sayangnya, tidak semua orang menjaga kebersihan lingkungan. Salah satu hal yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah membuang sampah sembarangan. Perilaku penyimpangan sosial ini, seringkali tidak disadari oleh masayrakat karena dianggap hal sepele dan menjadi kebiasaan. Membuang sampah sembarangan dianggap hal biasa.

Salah satu farktor penyebab masyarakat yang masih sering membuang sampah sembarang karena kurangnya sanksi tegas bagi pelanggar. Oleh karenanya, masyarakat tidak takut untuk membuang sampah sembarangan. Padahal dampak yang ditimbulkan bisa menjadi masalah besar.

Tidak Tepat Waktu

Perilaku tidak disiplin ini juga sering kali terjadi di masyarakat. Telat ketika kegiatan rapat maupun kegiatan lainnya yang melibatkan orang banyak seharusnya tidak terjadi.

Hal ini juga kerap kali terjadi karena tidak adanya sanksi tegas bagi seseorang yang melanggar. Padahal kebiasaan telat menandakan bahwa dirinya kurang mementingkan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan individu. Jika tidak diubah, kebiasaan ini akan terus terjadi karena secara tidak langsung akan mempengaryhi seseorang untuk melakuakan tondakan yang sama.

Pemberontakan

Dalam setiap syarat terbentuknya kelompok sosial di masyarakat yang merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan lebih tinggi, tidak jarang melawan kelompok masyarakat yang lebih lemah dan tidak sesuai dengan aturan kelompoknya. Pudarnya rasa saling menghargai antara masayarakat menyebabkan pemberontakan dapat terjadi.

Sama-sama merasa kuat dan merasa paling benar antar kelompok masyarakat juga menjadi faktor terjadinya pertikaian dan pemberontakan.

Perampokan

Pergeseran nilai dalam masyarakat tidak lepas dari pengaruh modernisasi dan globalisasi. Ada beberapa kelompok masyarakat yang mampu mengikuti perkembangan globalisasi. Namun disisi lain, ada beberapa masyarakat yang tidak bisa mengikuti perkembangan globalisasi. Akibatnya terjadi kesenjangan dalam masyarakat.

Contoh ketimpangan sosial ini juga dapat memicu munculnya rasa kecemburuan sosial dalam masyarakat. Demi mengikuti arus globalisasi, beberapa orang akan melakuakan apapun demi mencapai keinginannya, termasuk melakukan tindakan kriminal.

Perampokan adalah salah satu tindakan yang mungkin terjadi akibat adanya kesenjangan sosial. Perilaku menyimpang tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan karena tuntutan globalisasi.

Demo

Unjuk rasa dan demonstrasi saat ini semakin marak dilakukan. Rasa kurang puas terhadap kebijakan yang diambil oleh pihak-pihak tertentu mengakibatkan adanya unjuk rasa dari pihak lain yang merasa dirugikan.

Tidak jarang unjuk rasa tidak menghailkan kesepakatan tetapi justru mengakibatkan kerugian. Kerusakan fisik seperti fasilitas umum sering terjadi. Bahkan terkadang, menimbulkan korban jiwa karena mengabaikan keselamatan umum.

Memang semua orang memiliki kebebasan berpendapat di muka umum. Tetapi jangan sampai kebebasan tersebut justru merugikan orang lain. Dalam hal ini terjadi memudarnya rasa kemanusiaan karena tidak memikirkan dampak yang mungkin ditimbulkan.

Faktor Terjadinya Disorganisasi

Disorganisasi terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

  1. Faktor Sosial Budaya

Makna sosial budaya merujuk pada sikap individu atau sekelompok individu yang merasa lebih memiliki keunggulan dibandingan kelompok lain. Aspek sosial berkaitan dengan budaya salah satunya adalah adanya ikatan primordialisme atas dasar ras, susku, perbedaan budaya dan lain sebagainya.

  1. Faktor ekonomi

Perbedaan beragam macam motif ekonomi juga dapaat menjadi pemicu disorganisasi. Adanya kelas sosial dan status sosial dalam masyarakat menyebabkan adanya kesenjangan sosial yang dapat memunculkan disorganisasi lantaran kecemburuan yang berlebihan.

  1. Faktor politik

Perpecahan antar masyarakat dapat tejadi karena perbedaan pandangan politik antar kelompok masyarakat. Contoh nyata adalah ketika pelaksanaan pemilu. Perbedaan pilihan dalam pemilu memicu timbulnya disorganisasi dalam masyarakat.

Itulah penjelasan dan uraian lengkap yang bisa kami hadirkan pada segenap pembaca berkaitan dengan contoh disorganisasi dalam kehidupan masyarakat, baik untuk politik, ekonomi, budaya, keluarga, sampai dengan masalah-masalah lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *