Contoh Atribusi Sosial dalam Keseharian

Diposting pada

Atribusi dalam Psikologi

Dalam arti psikologi sosial makna atribusi adalah proses menyimpulkan penyebab peristiwa atau perilaku. Dalam kehidupan nyata, atribusi adalah sesuatu yang kita semua lakukan setiap hari, biasanya tanpa kesadaran akan proses dan bias yang mendasari yang mengarah pada kesimpulan kita. Sebagai contoh, ketika kita memproleh nilai buruk pada kuis, kita mungkin menyalahkan guru karena tidak cukup menjelaskan materi, padahal kita seringkali mengabaikan fakta bahwa kita lah yang tidak belajar.

Ketika teman sekelas memperoleh nilai bagus pada ujian yang sama, kita mungkin mengaitkan kinerja baiknya dengan keberuntungan, itu mengabaikan fakta bahwa ia memiliki kebiasaan belajar yang sangat baik. Berdasarkan contoh tersebut, menunjukkan bahwa seringkali kita membuat atribusi internal untuk beberapa hal sambil membuat atribusi eksternal untuk orang lain.

Atribusi

Atribusi dalam contoh psikologi sosial dimaknai sebagai bentuk upaya yang dilakukan dalam memahami dan mempelajatri penyebab dibalik seorang invidu berperilaku kepada orang lain, bahkan kajian ini juga mempelajari penyebab dibalik perilaku yang dijalankan sendiri.

Contoh Atribusi Sosial

Adapaun beberapa contoh atribusi dalam proses sosial yang ada di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

  1. Konsensus 

Konsensus adalah salah satu bentuk atribusi yang mengacu pada sejauh mana orang-orang berperilaku dengan cara yang sama dalam situasi yang sama.

Misalnya, Alison mengisap sebatang rokok ketika dia keluar untuk makan bersama temannya. Jika temannya merokok, perilakunya dianggap sesuai dengan consensus, sedangkan jika hanya Alison saja yang merokok itu dianggap rendah karena tidak sesuai konsensus.

  1. Konsistensi

Konsistensi masih berkaitan dengan konsensus. Atribusi yang satu ini menyatakan bahwa seseorang dapat  mengalami kecenderungan tindakan yang sama jika mengalami pengalaman serupa. Misalnya, jika Alison hanya merokok ketika dia keluar dengan teman-temannya, maka itu menunjukkan konsistensi tinggi, sedangkan jika dia hanya merokok pada satu kesempatan khusus, itu menunjukkan konsistensi yang rendah.

  1. Korespondensi Inferensial

Korespondensi inferensial pada dasarnya merupakan bentuk teori yang dikemukakan oleh Jones dan Davis(1965). Konsep atribusi berdasarkan teori ini yaitu seseorang bisa melakukan suatu hal karena adanya pengaruh faktor kepribadian atau faktor tekanan situasi yang ada di sekitarnya.

Misalnya, seseorang yang memiliki kepribadian baik mungkin akan terpaksa mencuri sebab sangat kelaparan dan mengalami pemasalahan keuangan. 

  1. Non Common Effect

Non common effect ialah bentuk atribusi yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi penyebab tindakan seseorang sebagai sesuatu yang tidak disukai oleh orang lain. Misalnya, ada seorang pria yang sudah berusia lanjut menikah dengan gadis berusia remaja.

Hal itu menyebabkan orang lain akan cenderung memberikan atribusi pada gadis remaja tersebut sebagai gadis materialistis sebab mengincar harta lansia yang dinikahinya tersebut.

  1. Freely Choosen Act

Atribusi dalam bentuk freely choosen act merupakan tindakan yang dipilih karena keinginan seseorang sendiri. Misalnya dalam hal ini ketika ada seorang wanita materialistis yang memutuskan untuk menikah dengan duda kaya raya.

  1. Distingsi

Distingsi (distinctiveness) ialah bentuk atribusi yang menunjukkan derajat perbedaan reaksi terhadap situasi-situasi yang berbeda.

Misalnya, ketika ada seorang wanita menangis ketika diselingkuhi atau disakiti sahabatnya. Apabila wanita menangis saat kekasihnya selingkuh, tapi tidak menangis saat dia disakiti sahabatnya, maka terdapat perbedaan derajat atribusi yang cukup signifikan.

  1. Low Social Desirability

Hal paling mudah untuk menggambarkan low social desirability yaitu ketika seseorang menyimpang dari kebiasaan umum. Misalnya, ada seseorang yang sedang menyaksikan acara lawak. Saat yang lainnya tergelak tertawa, dia justru menunjukkan rasa sedih atau malah menangis. Hal itu menimbulkan atribusi tertentu kepada dirinya.

  1. Kesalahan Atribusi Fundamental

Ketika seseorang mengamati tindakan orang lain, dia bisa saja salah dalam mengambil kesimpulan. Misalnya, ketika seseorang menggeleng saat mengiyakan sesuatu, itu dianggap sebagai suatu hal yang bertentangan padahal memang dia membawa faktor budaya yang demikian.

  1. Efek Pengamat

Seseorang akan memberikan penilaian terhadap penyebab tindakan orang lain berdasarkan apa yang dia amati. Misalnya, ketika seseorang terpeleset, kita bisa saja mengatakan bahwa dia kurang berhati-hati ketika berjalan, tapi jika kita sendiri yang terpeleset, maka kita mengatakan bahwa lantainya yang licin.

  1. Self-serving Bias

Self serving bias adalah kecenderungan seseorang dalam memberikan atribusi terhadap perilaku positif dari faktor internal dan perilaku negatif dari faktor eksternal. Misalnya dalam hal ini ketika kita berhasil memenangkan kompetisi melukis, kita bisa mengakatakn bahwa kita berhasil karena kita berbakat, tapi ketika kita gagal, bisa saja kita mengatakan bahwa jurinya tidak adil.

11# Atribusi Sosial dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam pengamalan untuk atribusi sosial di keseharian misalnya saja ketika ada seorang wanita cantik dari desa yang memilih menikah dengan seorang Bos di Kota. Konsep pernikahan yang dilakukan oleh wanita tersebut dilakukan lantaran melihat harta Bos nya yang dianggap kaya.

Dari kasus inilah setidaknya ada pengaruh atribusi yang materalistik dari seorang wanita lantaran melihat pernikahannya didasari pada banyaknya harta.

Itulah tadi artikel yang bisa kami berikan dan ulaskan pada segenap pembaca berkenaan dengan jenis dan contoh atribusi yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bisa memberikan pemahaman bagi kalian yang pada saat ini sedang membutuhkannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *